Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
BeritaBudayaButon RayaDaerahSultraWakatobi

Budaya dan Pengetahuan Lokal Perkuat Adaptasi Iklim di Wakatobi

18
×

Budaya dan Pengetahuan Lokal Perkuat Adaptasi Iklim di Wakatobi

Sebarkan artikel ini
Bukan hanya menggelar lokakarya, Festival Tanaman Obat Barata Kahedupa juga menampilkan katalog berbagai tanaman obat beserta fungsinya yang dapat ditemui di sekitar Pulau Kaledupa. (Foto: Adia Puja/YKAN).

Wakatobi, Kilasbalik.id — Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama pemerintah daerah, Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW), masyarakat adat, komunitas lokal, dan lembaga pendidikan menggelar dua agenda budaya di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, sebagai bagian dari penguatan adaptasi iklim berbasis masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi Festival Tanaman Obat Barata Kahedupa di Pulau Kaledupa, pada 17 Mei 2026, dan pentas Bahari Hekulu-Kulu Tomia di Pulau Tomia, pada 20 Mei 2026.

Sebagai wilayah kepulauan, Wakatobi menghadapi kerentanan tinggi terhadap ancaman dampak perubahan iklim, mulai dari kenaikan muka air laut, perubahan pola musim, abrasi pantai, hingga peningkatan suhu laut yang memengaruhi ekosistem pesisir dan sumber penghidupan masyarakat. Kondisi tersebut juga berdampak pada terganggunya ketersediaan pangan dan obat-obatan yang kerap bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Karena itu, penguatan pangan lokal, pemanfaatan obat-obatan, dan nilai-nilai tradisional dinilai penting untuk memperkuat ketahanan masyarakat pesisir. Sejak lama, masyarakat Wakatobi memiliki beragam pengetahuan lokal terkait pengelolaan pangan, pengobatan tradisional, dan praktik hidup selaras dengan alam yang diwariskan secara turun-temurun.

Kedua kegiatan ini mengangkat seni dan pengetahuan lokal sebagai media edukasi lingkungan sekaligus upaya menjaga ketahanan sosial-ekologis masyarakat. Festival Tanaman Obat Barata Kahedupa menghadirkan permainan edukasi, lokakarya tanaman obat, pameran herbal, hingga diskusi lintas generasi mengenai pengobatan tradisional. Sementara pentas Bahari Hekulu-Kulu di Tomia difokuskan pada regenerasi pengetahuan budaya dan ekologi melalui tari tradisional, lokakarya kreatif, dan edukasi lingkungan bagi pelajar.

Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, La Ode Ahyar Thamrin Mufti, mengatakan pendekatan budaya memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi dan memperkuat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

“Pengetahuan lokal masyarakat Wakatobi lahir dari hubungan panjang dengan alam. Ketika tradisi dan budaya dijaga, maka nilai-nilai konservasi juga ikut hidup di tengah masyarakat. Karena itu, pendekatan budaya menjadi sangat relevan dalam upaya adaptasi iklim dan perlindungan ekosistem pesisir,” ujarnya.

Ketgam : Kulu-Kulu merupakan alat tangkap ikan tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat pesisir di Wakatobi, khususnya Pulau Tomia. Pentas Bahari Hekulu-Kulu Tomia digelar untuk kembali mengenalkan konsep penangkapan ikan ramah lingkungan ini kepada generasi muda. (Foto: Adia Puja/YKAN)

Di Kaledupa, praktik pengobatan tradisional dan pemanfaatan tanaman obat masih hanya diterapkan oleh segelintir masyarakat. Begitu juga dengan tradisi Hekulu-Kulu di Tomia yang mengajarkan praktik penangkapan ikan ramah lingkungan, tetapi makna budaya dan nilai ekologisnya mulai dilupakan.

Kepala Masyarakat Adat di Pulau Kaledupa atau Lakina Barata Kahedupa, La Ode Saidin, menilai pengetahuan tradisional bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga bagian dari sistem hidup masyarakat pesisir. Padahal, menurutnya, tradisi dan pengetahuan lokal yang sejak lama diterapkan oleh para leluhur mengandung cara adaptasi masyarakat pesisir, jauh sebelum istilah “perubahan iklim” dikenal.

“Tanaman obat, ritus adat, dan pengetahuan leluhur bukan sekadar cerita lama. Semua itu adalah cara masyarakat memahami alam dan merawat kehidupan. Kalau generasi muda tidak lagi mengenalnya, maka kita kehilangan arah dalam menjaga hubungan dengan lingkungan,” katanya.

Seni dan Budaya Menjadi Pintu Masuk Adaptasi Iklim Berbasis Masyarakat

Sebagai gugusan pulau-pulau kecil, Wakatobi berada di garis depan perubahan iklim yang berhadapan langsung dengan ancaman gelombang tinggi, musim yang semakin sulit ditebak, kekeringan, hingga potensi peningkatan penyakit akibat cuaca yang berubah cepat. Untuk itu, YKAN mendukung masyarakat pesisir di pulau-pulau kecil dalam memperkuat ketahanan melalui berbagai upaya adaptasi iklim. Melalui penilaian kerentanan iklim di tingkat desa, YKAN mengembangkan dukungan teknis guna memperkuat kapasitas masyarakat dalam pengurangan risiko bencana dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Ketgam : Generasi muda dari berbagai sekolah di Pulau Kaledupa, Wakatobi, dilibatkan dalam kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan kearifan lokal yang perlu terus dilestarikan. (Foto: Adia Puja/YKAN).

YKAN juga mulai mengintegrasikan pendekatan perubahan perilaku dalam program adaptasi iklim di Wakatobi untuk memperkuat ketahanan masyarakat pesisir melalui pendekatan seni dan budaya. Lagu, cerita, tari, dan seni visual dinilai mampu membuat isu iklim lebih mudah dipahami sekaligus memperkuat keterhubungan masyarakat dengan pengetahuan dan kearifan lokal mereka.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, mengatakan perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan fisik, tetapi juga memengaruhi praktik budaya, pola hidup, dan ketahanan masyarakat pesisir. Karena itu, penting untuk menyandingkan ilmu pengetahuan modern dengan pengetahuan, adat, dan budaya lokal dalam membangun kesadaran sekaligus memperkuat ketahanan sosial-ekologis masyarakat.

“Ketahanan masyarakat pesisir tidak bisa dibangun hanya dengan infrastruktur atau intervensi teknis. Pengetahuan lokal, praktik budaya, dan hubungan masyarakat dengan alam merupakan modal penting dalam menghadapi perubahan iklim. Seni dan budaya dapat membuat pengetahuan lama menemukan bahasa baru, agar generasi muda lebih mudah memahami risiko iklim sekaligus menjaga identitas dan kearifan lokal mereka,” ujar Ilman.

YKAN berharap kedua kegiatan tersebut dapat menjadi contoh penguatan adaptasi iklim berbasis budaya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia.

Example 300250
Penulis: ZPEditor: Redaksi Kilasbalik.id
Example 120x600