JAKARTA, Kilasbalik.id – 15 Juni 2026 – Kabupaten Wakatobi kembali menorehkan prestasi membanggakan di panggung internasional. Dalam forum bergengsi bertajuk National Forum on Education for Sustainable Development: Biosphere Reserve and Ocean as The Learning Place of People and Planet yang digelar di Hotel Shangri-La Jakarta, Wakatobi mendapatkan pengakuan dunia sebagai salah satu model pembelajaran berbasis konservasi yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Forum internasional yang diselenggarakan UNESCO tersebut menempatkan Wakatobi sebagai representasi Indonesia dalam program percontohan (pilot project) pendidikan berkelanjutan kawasan Asia Pasifik. Dari seluruh negara di kawasan tersebut, hanya empat negara yang dipilih, yakni Jepang, Vietnam, Thailand, dan Indonesia yang diwakili oleh Wakatobi.
Pengakuan ini menjadi bukti nyata bahwa praktik konservasi dan pendidikan yang dikembangkan di Wakatobi mendapat validasi langsung dari UNESCO sebagai lembaga dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam forum tersebut, Bupati Wakatobi, Haliana, memperoleh kehormatan menyampaikan Opening Remarks bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof. Abdul Mu’ti serta Direktur Kantor Regional UNESCO Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa. Selain itu, Haliana juga tampil sebagai salah satu keynote speaker yang memaparkan praktik baik Wakatobi dalam mengintegrasikan pendidikan, konservasi lingkungan, budaya, dan pembangunan masyarakat.
Dalam sambutannya, Haliana menegaskan bahwa Wakatobi memiliki keunikan tersendiri karena seluruh wilayahnya berada dalam kawasan Cagar Biosfer UNESCO dan Taman Nasional Wakatobi.
“Kondisi ini menjadikan Wakatobi sebagai laboratorium hidup tempat konservasi, budaya, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan berjalan secara berdampingan,” ujar Haliana.
Melalui RPJMD Kabupaten Wakatobi Tahun 2025–2029 dengan visi Wakatobi sebagai Kabupaten Maritim yang Sentosa dan Berkelanjutan, pemerintah daerah terus mengintegrasikan penguatan kualitas manusia dengan penguatan nilai sosial, budaya, dan ekologi melalui program Merdeka Belajar.
Cagar Biosfer UNESCO di Wakatobi kini dijadikan ruang belajar nyata untuk membentuk Generasi Biosfer Wakatobi yang cerdas, berkarakter, berbudaya, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Bersama UNESCO, Balai Taman Nasional Wakatobi, dan berbagai mitra, Pemerintah Kabupaten Wakatobi juga mengembangkan paket pembelajaran konservasi laut “Wakatobiku” yang menggabungkan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan pengalaman belajar langsung di lapangan.
“Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menjadi instrumen utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” tambahnya.
Dalam forum tersebut, Wakatobi menjadi salah satu topik utama yang mendominasi pembahasan. Pengalaman daerah kepulauan ini dalam mengelola kawasan biosfer dan ekosistem laut sebagai ruang belajar masyarakat dinilai mampu menjadi inspirasi bagi berbagai negara dalam mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Wakatobi merupakan pionir dalam pengembangan Education for Sustainable Development (ESD) di Indonesia.
“Wakatobi bukan satu-satunya yang akan mengembangkan model ini di Indonesia, tetapi Wakatobi adalah yang pertama dan menjadi inspirasi bagi pengembangan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di berbagai daerah di tanah air,” tegas Abdul Mu’ti.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Haliana juga menyampaikan harapan kepada pemerintah pusat terkait penguatan kebijakan mata pelajaran muatan lokal, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan konservasi, kearifan lokal, dan pendidikan karakter peserta didik.
Pemerintah Kabupaten Wakatobi berharap adanya regulasi atau kebijakan yang memberikan pengakuan dan ruang linearitas antara mata pelajaran muatan lokal dengan mata pelajaran relevan dalam kurikulum nasional sehingga dapat diperhitungkan sebagai bagian dari beban kerja guru ASN.
Menurut Haliana, kebijakan tersebut sangat penting agar guru pengampu muatan lokal dapat lebih optimal dalam melaksanakan pembelajaran tanpa terkendala persoalan administrasi dan pengembangan karier profesi.
“Kami percaya bahwa masa depan konservasi dimulai dari pendidikan. Jika kita ingin menjaga laut, maka kita harus mendidik generasi yang mencintai laut. Jika kita ingin melestarikan alam, maka kita harus menanamkan nilai konservasi sejak usia dini,” ungkapnya.
Pengakuan internasional ini semakin memperkuat posisi Wakatobi bukan hanya sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia, tetapi juga sebagai laboratorium hidup pendidikan dan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
Momentum tersebut diharapkan menjadi pintu masuk lahirnya berbagai kolaborasi internasional, investasi pendidikan dan lingkungan, serta penguatan sumber daya manusia yang akan mendorong percepatan pembangunan Wakatobi di masa mendatang.
Dengan pengakuan UNESCO ini, Wakatobi kini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara dan Indonesia, tetapi juga tampil sebagai contoh dunia tentang bagaimana konservasi alam dapat berjalan seiring dengan pendidikan, pembangunan masyarakat, dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan global.




















