Kilasbalik.id, Wakatobi – Dengan Dukungan Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang), Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Wakatobi sukses melaksanakan pelatihan Pembuatan Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) bagi Bayi dan Balita pada Sabtu (27/7/2024).
Kegiatan yang dilakukan di Desa Matahora, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan itu melibatkan para ibu dan ibu hamil.
Ketua TP PKK Kabupaten Wakatobi Hj Eliati Haliana SKM mengatakan, kegiatan B2SA sangat penting dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Wakatobi, khususnya warga Desa Matahora akan pentingnya menu yang bergizi bagi tumbuh kembang bayi dan balita.
“agar diketahui apa saja makanan pendamping ASI yang memenuhi syarat untuk anak bayi dan balita,” katanya.
Ia pun menjelaskan jika pelatihan pembuatan menu B2SA kali ini berbasis pangan lokal dengan menggunakan bahan makanan yang telah ada di sekitar tempat tinggal warga dan mudah dijangkau.
Hal itu ucap Eliati Haliana, untuk menyatukan persepsi semua pihak bahwa menu yang sehat tidak mesti menu yang mahal dan harus dibeli diluar.
“Tetapi juga dari menu pangan lokal kita, pangan yang sudah ada di daerah kita yang merupakan juga tanaman yang sudah kita kenal dari nenek moyang kita,” ujarnya.
Selain memperkenalkan pangan lokal bagi bayi dan balita, Eliati yang mengatakan pentingnya membuat kreativitas olahan makanan, inovasi menu menu baru yang dapat mengundang selera makan anak anak
“Untuk Tamanan lokal disini bisa dari umbi-umbian, dari dari kondisi alamnya ada laut tentunya ada ikan, kita buat menu bervariasi sehingga membuat makanan lebih menarik,” imbuhnya.
Sementara itu ditempat yang sama, Kepala Disketapang Kabupaten Wakatobi, Sulaeman mengatakan, pelatihan menu B2SA bagi balita dilakukan untuk membantu mengatasi masalah stunting di kabu Wakatobi yakni dr usia 0-59 sebagai masa pertumbuhan balita.
Selain itu untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan ibu-ibu atau wanita dalam membuat makanan pendamping ASI dari bahan pangan lokal sesuai dengan kebiasaan dan sosial budaya setempat.
Jelasnya, usia 0-59 bulan merupakan Periode emas atau juga Periode kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa-masa ini bayi dan anak memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang secara optimal.
Sebaliknya apabila bayi dan anak pada masa ini tidak memperoleh asupan makanan sesuai kebutuhan dan gizinya maka masa emas akan menjadi masa kritis yang akan menggangu tumbuh kembangnya bayi dan anak pada masa itu dan masa selanjutnya.




















