Opini, Kilasbalik.id – Festival budaya adalah fenomena sosial yang tak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai instrumen representasi identitas, promosi pariwisata, dan penguatan ekonomi lokal. Wakatobi Wave 2025, yang akan digelar pada 3–5 Oktober 2025, adalah salah satu contoh paling nyata bagaimana sebuah daerah menggunakan festival sebagai medium untuk memperluas eksistensi di tingkat nasional maupun global.
Dari perspektif antropologi budaya, Wakatobi Wave merepresentasikan praktik cultural performance. Atraksi seperti karnaval budaya maritim, tari kolosal, dan ritual masyarakat Bajo adalah bentuk komunikasi simbolik yang menegaskan keterikatan Wakatobi dengan laut sebagai sumber kehidupan. Festival menjadi ruang artikulasi identitas: bagaimana masyarakat ingin dilihat oleh dunia luar, sekaligus bagaimana mereka mendefinisikan diri.
Namun, dalam kerangka kajian pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism), festival juga menimbulkan sejumlah tantangan. Pertama, dampak ekonomi. Seperti banyak festival lain di Indonesia, Wakatobi Wave berpotensi menghasilkan economic leakage—yakni manfaat ekonomi yang justru lebih besar dinikmati oleh pihak luar ketimbang masyarakat lokal. Agar tidak jatuh dalam jebakan ini, perlu ada strategi pasca-festival yang menghubungkan UMKM dengan jaringan pasar lebih luas, bukan sekadar memanfaatkan festival sebagai etalase sementara.

Kedua, partisipasi masyarakat. Dalam literatur pembangunan pariwisata, keberhasilan sebuah festival sangat ditentukan oleh community involvement. Jika masyarakat hanya dijadikan pengisi acara, festival berisiko kehilangan legitimasi sosial. Sebaliknya, jika mereka terlibat sebagai perancang, pengelola, sekaligus penerima manfaat utama, festival akan menjadi instrumen pemberdayaan yang sesungguhnya.
Ketiga, dimensi ekologi. Wakatobi merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Festival yang mengusung tema bahari seharusnya tidak berhenti pada retorika konservasi, melainkan benar-benar mengintegrasikan praktik ramah lingkungan dalam setiap tahap pelaksanaannya. Tanpa itu, Wakatobi Wave justru berpotensi menambah tekanan pada ekosistem pesisir melalui lonjakan wisatawan, peningkatan sampah, dan aktivitas wisata yang tidak terkelola.
Dengan demikian, Wakatobi Wave 2025 seharusnya dibaca bukan sekadar sebagai agenda pariwisata, tetapi juga sebagai laboratorium sosial. Ia menjadi ruang uji: apakah festival mampu mengintegrasikan identitas budaya, pemberdayaan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu gelombang yang utuh.
Apabila Wakatobi Wave mampu menjawab tantangan tersebut, maka ia tidak hanya akan menjadi ajang perayaan, melainkan juga model praktik festival berkelanjutan yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia. Jika tidak, festival ini berisiko sekadar menjadi riak sesaat—meriah di permukaan, tetapi hampa di kedalaman.
Oleh : Muhammad Syawal




















